Permintaan Perhiasan Emas Global Turun 23 Persen, Nilainya Justru Melesat
Permintaan perhiasan emas global turun 23 persen pada awal 2026, namun nilainya justru meningkat tajam akibat lonjakan harga emas dunia.
Permintaan perhiasan emas dunia mengalami penurunan tajam pada awal 2026, namun nilai transaksinya justru melonjak seiring kenaikan harga emas global.
Laporan terbaru dari World Gold Council menunjukkan konsumsi perhiasan emas global pada kuartal I 2026 hanya mencapai sekitar 300 ton, turun 23 persen secara tahunan. Namun di sisi lain, nilai belanja justru meningkat signifikan dan bahkan mencetak rekor baru secara global.
Fenomena ini dipicu oleh lonjakan harga emas yang mencapai level tertinggi dalam sejarah, sehingga menekan daya beli masyarakat. Konsumen tetap membeli emas, tetapi dalam jumlah lebih kecil atau memilih perhiasan dengan bobot lebih ringan dan kadar lebih rendah agar tetap sesuai dengan anggaran.
Di pasar utama seperti China dan India, tren serupa juga terjadi. Volume permintaan di China turun hingga 32 persen, sementara India turun sekitar 19 persen. Meski demikian, nilai belanja di kedua negara tetap meningkat karena harga emas yang tinggi.
Perubahan perilaku konsumen juga terlihat dari pergeseran minat ke produk investasi seperti emas batangan dan koin. Permintaan untuk jenis ini justru melonjak, menandakan bahwa emas semakin dipandang sebagai aset lindung nilai di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Di kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia, tren penurunan volume juga terjadi. Permintaan perhiasan emas di Indonesia tercatat sekitar 3,3 ton pada kuartal I 2026, turun sekitar 20 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Meski volume menyusut, kekuatan nilai pasar emas tetap terjaga. Kondisi ini menunjukkan adanya pergeseran struktur pasar, di mana konsumen menjadi lebih selektif dalam membeli, sementara emas tetap mempertahankan daya tariknya sebagai instrumen investasi jangka panjang.
Situasi ini menegaskan bahwa emas kini tidak hanya berfungsi sebagai perhiasan, tetapi juga sebagai aset strategis di tengah ketidakpastian ekonomi global—di mana nilai tetap naik meski jumlah yang dibeli semakin sedikit.





